Meneladani Nabi Yusuf As. : Kisah Naratif dalam Al Quran Surat Yusuf dan Taurat Kitab Kejadian
oleh: Ismail Sonny, Lc., MA.Hum.
Ungkapan populer pakar ilmu politik dan diplomat Amerika Henry Kissinger: “Control the foods and you control the people”, Kendalikan pangan dan anda mengendalikan rakyat. Pangan merupakan kebutuhan paling mendasar manusia. Ketersediaan pangan dan stabilitas memiliki hubungan yang kompleks dan saling mempengaruhi. Kelaparan, atau kurangnya akses terhadap pangan yang cukup, dapat mengganggu stabilitas negara karena dapat menyebabkan kerusuhan sosial, konflik, dan bahkan runtuhnya pemerintahan. Sementara ketidakstabilan juga dapat memperburuk kondisi kelaparan.
Tulisan ini mencoba untuk mengaitkan keberhasilan langkah strategis ketahanan pangan Presiden Prabowo, khususnya beras sebagai makanan pokok utama, dengan kisah teladan Nabi Yusuf As. dalam mengelola krisis pangan di negeri Mesir. Langkah – langkah strategis dan komprehensif yang diambil Yusuf As. dalam kisah naratif Al-Quran surat Yusuf dan Taurat (Perjanjian Lama) Kitab Kejadian, Mengambil pelajaran dan menjadikan tauladan untuk membangun kedaulatan pangan Indonesia yang berkelanjutan.
Presiden Prabowo Subianto, pada acara Kongres IV Tidar, Sabtu (17/5/2025) mengungkapkann; Indonesia sudah menuju ke arah swasembada pangan. Ia menyebut produksi beras dan jagung Indonesia saat ini berada di titik tertinggi sepanjang sejarah. Sebuah prestasi yang gemilang dan kabar yang sangat menggembirakan, ditengah isu perubahan iklim dan potensi pecahnya perang dunia ke 3, yang dapat mengganggu ketersediaan pangan dunia.
Perubahan iklim di Indonesia ditandai oleh peningkatan suhu, perubahan pola curah hujan, dan kenaikan permukaan air laut. El Nino dan La Nina adalah dua fenomena iklim alami yang terjadi di Samudra Pasifik tropis. El Nino ditandai dengan suhu permukaan laut yang lebih hangat dari biasanya di Pasifik tengah dan timur, sementara La Nina ditandai dengan suhu permukaan laut yang lebih dingin dari biasanya di wilayah yang sama. El Nino menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang dan kering di Indonesia, mengurangi curah hujan dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. La Nina dapat menyebabkan peningkatan curah hujan di Indonesia, yang dapat memicu banjir, tanah longsor, dan kerusakan infrastruktur.
Climate Change merupakan masalah klasik. Nabi Ibrahim As. yang hidup di negeri Kan’an (Palestina) sekitar 2.000 SM pernah mengalami bencana kekeringan, gagal panen dan kelaparan. Sebagai solusi, Nabi Ibrahim As. pergi ke negeri Mesir mencari makanan. Pertanian Mesir Kuno sangat maju berkat keberadaan Sungai Nil yang menyediakan irigasi alami dan tanah subur. Mereka menanam berbagai tanaman, terutama biji-bijian seperti gandum yang menjadi makanan pokok. Singkat cerita Ibrahim As. membawa pulang pangan dari Mesir ke Palestina yang kekeringan.
Sejarah berulang, nabi Ya’kub As. (Israel), cucu Ibrahim As. dari anaknya Ishaq As. kembali mengalami kemarau panjang, gagal panen dan bencana kelaparan. Nabi Ya’kub mendengar kabar adanya gandum di Mesir. Segera ia menyuruh anak-anaknya untuk pergi ke Mesir membeli gandum [Kitab Kejadian: 42: 1-3]. Mesir dibawah kendali Nabi Yusuf As. dengan srategi yg tepat, berhasil menghadapi krisis, menjadi lambung pangan dunia. Ketahanan pangan negara Sungai Nil saat itu menjadikannya sebagai pengekspor gandum untuk negeri-negeri perserikatan Mesir, seperti Mesopotamia, Suriah, dan Kan’an, ketika negeri-negeri tersebut mengalami musim kemarau yang sama.
Kisah naratif nabi Yusuf as. anak nabi Ya’kub As. yang dibuang ke dalam sumur oleh saudaranya, lalu dijual jadi budak ke Mesir oleh musafir yang menemukannya. Masuk penjara dengan fitnah merayu sang ratu. Keluar penjara dan dijadikan perdana menteri oleh firaun, karna Kemampuannya menafsirkan mimpi Firaun:
يُوْسُفُ اَيُّهَا الصِّدِّيْقُ اَفْتِنَا فِيْ سَبْعِ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ يَّأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَّسَبْعِ سُنْۢبُلٰتٍ خُضْرٍ وَّاُخَرَ يٰبِسٰتٍۙ لَّعَلِّيْٓ اَرْجِعُ اِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُوْنَ ٤٦
(Dia berkata,) “Wahai Yusuf, orang yang sangat dipercaya, jelaskanlah kepada kami (takwil mimpiku) tentang tujuh ekor sapi gemuk yang dimakan oleh tujuh (ekor sapi) kurus dan tujuh tangkai (gandum) hijau yang (meliputi tujuh tangkai) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu supaya mereka mengetahuinya.” [QS. Yusuf:46]
Langkah strategis pertama Yusuf As. adalah Mitigasi bencana. Diketahui dari mimpi Firaun, dia melihat 7 ekor sapi yang gemuk keluar dari sungai Nil, memakan rumput ditepian sungai, lalu keluarlah dari lumpur sungai Nil 7 ekor sapi kurus-kurus dan memakan sapi yang gemuk-gemuk. Pada mimpi kedua, Firaun bermimpi, tumbuh pada satu tangkai 7 bulir gandum padat berisi, lalu tumbuh tangkai 7 bulir gandum kurus dan layu, lalu bulir yang kurus memakan bulir yang berisi. 7 ekor sapi gemuk-gemuk dan tujuh bulir pertama ditabirkan Yusuf As. dengan akan datangnya 7 tahun waktu subur dan berlimpah, kemudian sapi kurus kering dan bulir gandum kering dan layu petanda datangnya 7 tahun kekeringan.
قَالَ تَزْرَعُوْنَ سَبْعَ سِنِيْنَ دَاَبًاۚ فَمَا حَصَدْتُّمْ فَذَرُوْهُ فِيْ سُنْۢبُلِهٖٓ اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تَأْكُلُوْنَ ٤٧
(Yusuf) berkata, “Bercocoktanamlah kamu tujuh tahun berturut-turut! Kemudian apa yang kamu tuai, biarkanlah di tangkainya, kecuali sedikit untuk kamu makan. [QS. Yusuf: 47]
Nabi Yusuf AS menganjurkan pemerintah Mesir pada waktu itu agar mempersiapkan diri menghadapi masa paceklik selama 7 tahun. Yusuf As. memberikan masukan kepada raja dengan perencanaan strategis untuk membangun ketahanan pangan yang kuat, yaitu produksi massal gandum dan manajemen stok pangan, serta membudayakan hidup hemat dalam mengkonsumsi makanan. Dengan Langkah ini, negara Mesir tetap tenang dalam keadaan paceklik lantaran banyak cadangan makanan dalam lumbung. Bahkan ketahanan pangan negara Sungai Nil ini saat itu menjadikannya sebagai pengekspor gandum untuk negeri-negeri perserikatan Mesir, seperti Mesopotamia, Suriah, dan Kan’an, ketika negeri-negeri tersebut mengalami musim kemarau yang sama.
1. Peningkatan Produksi Pangan “Tanamlah 7 tahun berturut-turut”
Setelah dilantik, Yusuf As. segera berkeliling ke negeri-negeri Mesir, memperingatkan rakyat akan bahaya kemarau panjang, memberikan lahan-lahan untuk ditanami, menempatkan penyuluh-penyuluh kerajaan ke penjuru negeri, agar dapat melalukan pembinaan dan pengawasan. Sungai Nil meluap setiap tahun, membawa lumpur yang kaya nutrisi dan membuat tanah di sekitarnya subur. Yusuf mengembangkan sistem irigasi yang rumit untuk mengendalikan aliran air sungai dan mendistribusikannya ke lahan pertanian, membangun waduk, dengan tanggul dan kanal untuk mengarahkan air sungai nil saat banjir ke lahan pertanian. Pada saat sungai Nil surut digunakan alat seperti shaduf (timba) untuk mengangkat air dengan kincir angin dari kanal atau sungai ke lahan yang lebih tinggi.
35 Mereka harus mengumpulkan segala bahan makanan dalam tahun-tahun baik yang akan datang ini dan, di bawah kuasa tuanku Firaun, menimbun gandum di kota-kota sebagai bahan makanan, serta menyimpannya. 36 Demikianlah segala bahan makanan itu menjadi persediaan untuk negeri ini dalam ketujuh tahun kelaparan yang akan terjadi di tanah Mesir, supaya negeri ini jangan binasa karena kelaparan itu.” [Taurat; Kejadian: 41: 35-36]
Peningkatan produksi pangan menjadi salah satu aspek penting dalam menghadirkan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Peningkatan produksi pangan dapat dilakukan dengan membuka lahan-lahan baru (Ekstenfikasi), program cetak sawah baru, brigade pangan dan Food Estate. Hal ini dikarenakan berkurangnya lahan pertanain akibat alih fungsi menjadi pemukiman, industri, infrastruktur dan degradasi lahan itu sendiri. Peningkatan produksi pangan juga dapat dilakukan dengan optimalisasi lahan (Intensifikasi), melalui sarana prasarana pertanian seperti pupuk, benih, obat-obatan, kualitas lahan, pengairan, tenaga kerja, alat mesin pertanian, hingga dukungan penyuluhan. Begitu juga dengan pembangunan waduk, pengadaan pompa – pompa untuk mengairi lahan-lahan dari sungai yang mengalir sepanjang tahun.
2. Managemen Stok Pangan. “Kemudian apa yang kamu tuai, biarkanlah di tangkainya”
Yusuf As. membangun lumbung-lumbung pangan di setiap negeri-negeri Mesir, menjamin tersimpannya hasil panen dengan baik. Lumbung yang dibangun dengan teknologi pangan mumpuni, dapat menyimpan hasil panen dengan baik sampai 7 tahun lamanya tanpa merusak kualitas dan kuantitasnya. Rakyat yang tidak menyimpan hasil panen di lumbung kerajaan akan menyesal di kemudian hari, karna hasil panen yang disimpan menjadi rusak, tidak bisa dijadikan bahan makanan.
Tanah itu mengeluarkan hasil bertumpuk-tumpuk dalam ketujuh tahun kelimpahan itu (47), maka Yusuf mengumpulkan segala bahan makanan ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir, lalu disimpannya di kota-kota; hasil daerah sekitar tiap-tiap kota disimpan di dalam kota itu.(48) Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut, sangat banyak, sehingga orang berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung (49). [Kitab Kejadian: 41:47-49]
Yusuf As. menarik pajak seperlima (20%) dari hasil panen rakyat Mesir, sebagai jasa gudang dan kontribusi rakyat kepada negara. Empat perlima (80%) dimanfaatkan petani dan keluarganya bertahan hidup, dan untuk benih agar dapat di tanam kembali. Pada 7 tahun pertama para penilik kerajaan membantu rakyat menyimpan hasil panen di lumbung yang dibuat kerajaan, Pada 7 tahun berikutnya masa paceklik, penilik di setiap negeri Mesir membantu dan mengawasi distribusi gandum, memastikan ketersediaan makanan bagi seluruh masyarakat. Penilik medistribusikan secara terencana dan terkendali, menghindari kelangkaan dan gejolak harga
34 Baiklah juga tuanku Firaun berbuat begini, yakni menempatkan penilik-penilik atas negeri ini dan dalam ketujuh tahun kelimpahan itu memungut seperlima dari hasil tanah Mesir. 35 Mereka harus mengumpulkan segala bahan makanan dalam tahun-tahun baik yang akan datang ini dan, di bawah kuasa tuanku Firaun, menimbun gandum di kota-kota sebagai bahan makanan, serta menyimpannya. 36 Demikianlah segala bahan makanan itu menjadi persediaan untuk negeri ini dalam ketujuh tahun kelaparan yang akan terjadi di tanah Mesir, supaya negeri ini jangan binasa karena kelaparan itu.” [Taurat: Kejadian: 41:34-36]
Lumbung-lumbung yang dibangun Yusuf As. Ibarat Perum Bulog di Indonesia. Prabowo mengintruksikan Bulog membeli gabah petani di harga Rp.6.500,- untuk memastikan BULOG dapat menyerap produksi dalam negeri, menjaga stabilitas harga, meningkatkan kesejahteraan petani dengan memastikan harga yang menguntungkan bagi mereka, Menjaga stabilitas harga beras di pasar, Memastikan ketersediaan pasokan beras nasional, Meningkatkan produktivitas petani. Presiden Prabowo juga menyederhanakan birokrasi pengadaan pupuk, penyaluran langsung ke gapoktan agar subsidi tepat sasaran.
Lebih dari itu, Presiden Prabowo menutup keran impor pangan empat komoditas; beras, jagung, gula konsumsi dan garam. Dengan menghentikan impor, harga gabah petani diharapkan meningkat, mendorong mereka untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan. Selain itu, kebijakan ini juga mengurangi ketergantungan pada beras impor, memperkuat kedaulatan pangan Indonesia.
3. Budaya Hidup Hemat. “Kecuali sedikit untuk kamu makan”
Krisis di depan mata, masa kemarau panjang akan datang, gagal panen menghantui, kelangkaan pangan terbayangkan, kelaparan mengintai negeri-negeri Mesir. Yusuf As. menghimbau rakyat Mesir hemat mengkonsumsi makanan. Yaitu, gaya hidup yang mengutamakan pengelolaan konsumsi makanan secara bijaksana, memperioritaskan kebutuhan dari pada keinginan, serta menghindari pemborosan. Tujuannya adalah untuk mencapai kedaulatan pangan, bagaimana 7 tahun yang akan datang semua hasil panen gagal, dan rakyat tetap bisa memperoleh makanan.
Budaya hidup hemat pangan di Indonesia dapat dilakukan dengan menanam tanaman kebutuhan pokok sehari-hari disekitar rumah. “Tidak semuanya harus dibeli”, apa yang bisa ditanam sendiri secara sederhana hendaklah di taman sendiri sehingga menhemat belanja rumah tangga, seperti cabe, dan bumbu – bumbu dapur di pekarangan rumah. Konsep ini tentunya tidak cocok untuk masyarakat perkotaan. Pertumbuhan penduduk Indonesia yang mencapai 3,5 juta jiwa per tahun menuntut inovasi dan produksi pangan yang berbasis riset.
Presiden Prabowo menghadiri peluncuran Gerakan Indonesia Menanam (Gerina) di Banyuasin Sumatera Selatan, Rabu 23 April 2025. Program ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam menanam, menumbuhkan, dan memanen tanaman pangan guna mencapai swasembada pangan di seluruh Indonesia. Gerina mempunyai 2 program inovatif, Si Opung (Solusi Tanam Terapung) merupakan metode menanam padi di atas kolam atau badan air, dan Si Cepot (Solusi Cepat Panen Via Pot) solusi urban farming maupun di wilayah sempit

