Oleh: Dr. Saproni Muhammad Samin. MA ,- Ketua DPW Al-Matien Riau
Terkisah salah satu sosok yang tercatat dalam sejarah Islam adalah kisah Abdurrahman bin Muljam Al-Himyari. Ia dulunya adalah seorang yang ahli ibadah, jika malam hari ia sholat malam, jika siang hari ia sering berpuasa. Ia termasuk orang yang suka menghafal Al-Quran dan bahkan menjadi muqri’ (orang yang membacakan Al-Quran) yang sering dikirim ke daerah-daerah yang meminta guru ngaji dari khalifah.
Adalah sayyidina Umar bin Khatab RA, pernah mengirim Abdurrahman bin Muljam ke Mesir, setelah Amr bin Ash Gubernur Mesir pada saat itu, meminta khalifah Umar untuk mengirimkan guru ngaji yang bertugas mengajarkan Al-Quran kepada kaum muslimin di Mesir saat itu.
Dalam surat balasannya, ‘Umar menulis: “Aku telah mengirim kepadamu seorang yang shâlih, ‘Abdur-Rahmân bin Muljam. Aku merelakan ia bagimu. Jika telah sampai, muliakanlah ia, dan buatkan sebuah rumah untuknya sebagai tempat mengajarkan Al-Qur`ân kepada masyarakat”.
Namun sejarah mencatat bahwa Abdurahman bin Muljam adalah sebagai pembunuh sayyidina Ali Karromallahu Wajhah, sepupu sekaligus menantu Baginda Nabi, SAW., salahsatu dari sepuluh sahabat yang dijamin dimasukkan Allah ke dalam Surga.
Sesuatu yang mengherankan lagi adalah, pada saat Abdurrahman membunuh Sayyidina Ali RA., Abdurrahman membaca ayat:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. [al Baqarah/2:207].
Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentang Ibnu Muljam: “Sebelumnya, ia adalah seorang ahli ibadah, taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Akan tetapi, akhir kehidupannya ditutup dengan kejelekan (su`ul khâtimah). Dia membunuh Amirul-Mu’minin ‘Ali dengan alasan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui tetesan darahnya.
Pertanyaan besarnya adalah: apa yang menjadikan seorang yang ahli ibadah, penghafal Al-Quran bahkan Muqri’ Al-Quran tidak punya penyesalan saat membunuh Ali RA., dan bahkan menjadikan perbuatannya sebagai sarana untuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWT?
Jawabannya adalah karena Abdurrahman bin Muljam mengidap virus pemikiran ekstrim dalam beragama yang disebut sebagai pemikiran khawarij.
PEMIKIRAN KHAWARIJ
Istilah Khawarij berasal dari bahasa arab Khoroja, yaitu yang berarti keluar, muncul, timbul, atau memberontak. Berdasarkan pengertian menurut bahasa khawarij juga dapat diartikan setiap muslim yang ingin keluar dari kesatuan umat islam. Penganut aliran ini adalah kelompok yang memberontak melawan ‘Ali, amir al-mu’minin, pada waktu arbitrasi dan berkumpul di Harurah dekat kufah. Para pemimpin mereka adalah ‘Abdullah ibn Al-Kawwa, Attab ibn Al-‘Awar, Abdullah ibn Wahab Al-Rasibi, Urwah ibn Jarir, Yazid ibn ‘Ashim Al-muharibi, dan Hurqush ibn Zuhair Al-Bajali yang dikenal sebagai Dzu Al-Tsudayyah. mereka adalah ahli ibadah. Namun kelakuan mereka ini pernah dikatakan oleh Nabi, “Shalat dan puasa dari siapapun diantara kamu akan sedikit lebih bermanfaat dibandingkan shalat dan puasa mereka. (kahawarij), karena keimanan mereka tidak akan mencapai hati mereka. “Orang-orang ini juga adalah para pemberontak yang kepada mereka Nabi katakan, “Dari keturunan orang ini, akan muncul seseorang yang akan lari dari agama, sebagimana lepasnya sebuah anak panah keluar dari busurnya,.
Mereka ini dinamakan Khawarij karena mereka memisahkan diri atau ke luar dari jamaah umat. Mereka memang menerima sebutan khawarij dengan pengertian sebagai orang-orang yang ke luar pergi berperang untuk menegakkan kebenaran. Hal ini mereka dasarkan pada ayat:
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi Ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh Telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. An-Nisa (4):100).
Kaum khawarij kadang-kadang menamakan diri mereka sebagai kaum Syurah. Artinya “orang-orang yang mengorbankan dirinya ”
Untuk kepentingan keridhaan Allah Swt. Mereka mendasarkan pada ayat:
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.(QS. Al-Baqarah (2):207)
Bahwa “khawarij” adalah nama yang sering dipakaikan kepada golongan ini. Padahal tadinya mereka adalah sebagian dari pengikut Ali ra., bahwa mereka mempertaruhkan kehidupan dunia untuk kepentingan kehidupan akherat kelak. Nama lain yang dipakaikan kepada golongan ini ialah “Muhakkimah” , artinya mereka berpendapat bahwa “tidak ada hukum selain Allah.”
PEMIKIRAN EKSTRIM BERTENTANGAN DENGAN AKIDAH AHLUSSUNNAH WA AL-JAMAAH
Akidah Ahlussunnah Wa Al-Jamaah adalah akidah yang menjadikan pengikutnya memahami bahwa tali yang mengikat umat Islam adalah tali Keimanan. Hal ini berangkat dari ayat Allah SWT.,
إنما المؤمنون إخوة
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara.”(QS. Al-Hujurat:10)
Ayat ini adalah bingkai yang menyatukan kaum yang beriman, meskipun kadang orang yang beriman adalah seorang yang fasiq yaitu orang yang melakukan dosa-dosa besar. Hal ini karena dalam akidah Ahlussunnah perbuatan dosa besar tidak menjadikan orang keluar dari Islam, berbeda dengan akidah kaum ekstrimis yang mempunyai pemahaman bahwa dosa besar mengeluarkan orang dari daerah keimanan.
Dalam banyak ayat Allah SWT., mengenalkan dirinya sebagai Dzat yang Maha Pengampun, menerima kondisi apapun dari seorang hamba yang bergelimang dosa. sebagian dari beberapa ayat yang mengenalkan hal itu adalah:
۞ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS.Zumar: 53]
۞ نَبِّئْ عِبَادِيْٓ اَنِّيْٓ اَنَا الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Kabarkanlah kepada hamba-hambaKu, bahwa Akulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang, (QS. Al-Hijr: 49)
Ayat-ayat ini merupakan ayat-ayat yang sebagian kandungan maknanya adalah memanggil para pendosa untuk kembali keharibaan Islam dan Iman, agar para pendosa tidak merasa berputus asa dari rahmat Allah. Semangat untuk menerima berbagai kekurangan dan ketidaksempurnaan Iman seseorang hendaklah menjadi semangat kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Oleh karenanya sikap membenci orang yang beriman lainnya sampai dengan mengkafir-kafirkan orang lain karena sebab penyelewengan dalam perkara syariat adalah sikap yang tidak menemukan pijakannya dalam keyakinan Ahlissunnah Wa Al-Jamaah.
Sikap Ekstrim dan berlebih-lebihan di dalam beragama bukanlah yang diinginkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW., hal ini seperti yang disabdakan oleh Beliau SAW;
إن الدين يسر ولن يشاد الدين إلا غلبه فسددوا وقاربوا وأبشروا واستعينوا بالغدوة والروحة وشيء من الدلجة
“Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidaklah seseorang berlebih-lebihan dalam urusan agama melainkan agama akan mengalahkannya, maka tepatkanlah, dekatkanlah, dan bergembiralah, minta bantuanlah dengan (melaksanakan ketaatan) di waktu pagi, sore, dan sebagian malam hari” (HR.Al-Bukhari rahimahullah)
ٍSalahsatu dari bentuk berlebih-lebihan dalam urusan agama adalah merubah ikatan iman yang mengikat kesatuan umat dengan ikatan syariat. Hal ini menjadikan seseorang yang sholeh ketika melihat orang yang kurang sholeh secara syariat, bukan dengan pandangan kasih sayang melainkan dengan pandangan benci dan kurang bersahabat, karena pada hakikatnya yang harus dibenci adalah perbuatannya dengan tetap penuh penuh kasihan terhadap pelakunya. Pandangan Kasihan ini mendorong seseorang untuk menolong saudaranya yang terjerumus pada perbuatan dosa dengan cara misalnya, menasihati dan mengajaknya kembali ke jalan yang benar. Hal ini sebagaimana Hadits Rasulullah SAW.,
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا
“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi.”
فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا ، أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ « تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ ، فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ »
Kemudian ada seseorang bertanya tentang bagaimana cara menolong orang yang berbuat zalim?
Beliau menjawab, “Kamu cegah dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya.” (HR. Bukhari, no. 6952; Muslim, no. 2584)
Begitupun pandangan kasih sayang adalah pandangan yang mendorong seseorang untuk selalu bisa melakukan kebaikan dan penuh cinta kasih terhadap orang lain dan bahkan makhluk Allah SWT. Rasulullah SAW., bersabda;
Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ
“Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan senangkanlah hewan yang akan disembelih.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 1955, Bab “Perintah untuk berbuat baik ketika menyembelih dan membunuh dan perintah untuk menajamkan pisau”].
Rasulullah SAW., telah mengabarkan kepada kita tentang banyak hal yang menunjukkan bahwa beliau sangat sayang terhadap ummatnya bahkan mereka yang pada saat menjalani kehidupan kalah dengan hawa nafsunya sehingga terjerembab dalam lumpur dosa. Beberapa Hadits yang menyatakan tentang hal tersebut adalah;
إن الله عز وجل يبسط يده بالليل ليتوب مسيء النهار ويبسط يده بالنهار ليتوب مسيء الليل حتى تطلع الشمس من مغربها
“Allah Subhanahu wa Ta’ala akan senantiasa membuka lebar-lebar tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari dan Allah senantiasa akan membuka tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada malam hari. Dan yang demikian itu terus berlaku hingga matahari terbit dari barat.” (HR.Muslim)
لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا
“Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] dan [Abu Kuraib] dan lafazh tersebut milik Abu Kuraib, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami [Abu Mu’awiyah] dari [al-A’masy] dari [Abu Shalih] dari [Abu Hurairah] dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap Nabi memiliki doa yang mustajab, maka setiap nabi menyegerakan doanya, dan sesungguhnya aku menyembunyikan doaku sebagai syafa’at bagi umatku pada hari kiamat. Dan insya Allah syafa’atku akan mencakup orang yang mati dari kalangan umatku yang tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apa pun.” (HR.Muslim)
شَفَاعَتِى لأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِى
“Syafa’atku bagi orang-orang yang melakukan dosa besar dari ummatku.” (HR. Tirmidzi no. 2435, Abu Dawud no. 4741. Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shohih ghorib dari jalur ini).
Jika kita sebagai ummat Nabi Muhammad SAW., memahami tentang hakikat ini maka kita bisa memahami mengapa Rasulullah SAW., menyebut orang-orang khawarij atau orang-orang penganut pemahaman ekstrimisme dalam beragama sebagai orang yang yang sejahat-jahat makhluk, Hal ini sebagaimana disebutkan baginda Nabi SAW., dalam haditsnya;
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ بَعْدِي مِنْ أُمَّتِي أَوْ سَيَكُونُ بَعْدِي مِنْ أُمَّتِي قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَلَاقِيمَهُمْ يَخْرُجُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَخْرُجُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ ثُمَّ لَا يَعُودُونَ فِيهِ هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sepeninggalku kelak, akan muncul suatu kaum yang pandai membaca Al Qur`an tidak melewati kerongkongan mereka. mereka keluar dari agama, seperti anak panah yang meluncur dari busurnya dan mereka tidak pernah lagi kembali ke dalam agama itu. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk dan akhlak mereka juga sangat buruk.” (HR.Muslim)
Mereka disebut sebagai sejahat-jahat makhluk, karena Allah dan RasulNya membuka pintu untuk para pendosa kembali ke jalan agama, kaum ekstrimis menutup pintu dan bahkan menyalah-nyalahkan dan mengeluarkan mereka dari daerah keimanan. na’udzubillah dari pemikiran ekstrim beragama.
Wallahu A’lam Bi Al-Showab



