Oleh: Dr. KH. Muhammad Rahman, Lc., MA. Sekjend Al-Matien
JAKARTA — Dalam acara Training Akhlak Bangsa bagi Milenial yang diselenggarakan oleh Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa (PD PAB) MUI pada Jumat, 21 Februari 2025, Dr. KH. Muhammad Rahman, Lc., M.A. Pengurus Perbaikan Akhlak Bangsa (PDPAB) MUI Pusat dan Sekretaris Jendral Almatien tampil sebagai salah satu narasumber utama yang memberikan pencerahan mendalam kepada para peserta muda dari berbagai latar belakang.
Dalam pemaparannya, KH. Muhammad Rahman menekankan bahwa akhlak bukan sekadar pelengkap dalam kehidupan beragama, melainkan fondasi utama yang menopang bangunan peradaban umat. Ia mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, sebagaimana sabda beliau: “Innamā bu‘itstu liutammima makārimal akhlāq.”
> “Kita tidak sedang menghadapi krisis intelektual, tetapi krisis moral. Ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan kecerdasan yang merusak,” tegasnya.
Sebagai seorang ulama dan akademisi, KH. Muhammad Rahman melihat urgensi pelatihan akhlak bagi generasi muda di tengah derasnya arus globalisasi, krisis identitas, dan dekadensi moral. Ia menyoroti fenomena pergeseran nilai di kalangan milenial, termasuk maraknya ketergantungan pada media sosial, gaya hidup instan, hingga lemahnya rasa tanggung jawab sosial.
Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya tiga komponen utama pembentuk karakter: taqwa, ilmu, dan keteladanan. Menurutnya, generasi muda perlu didampingi dengan pendekatan yang tidak hanya normatif tetapi juga inspiratif dan solutif.
> “Jangan hanya menyalahkan anak muda jika akhlaknya rusak. Lihat siapa yang mendidik, siapa yang menjadi panutannya, dan lingkungan apa yang mengelilinginya,” ujarnya dengan penuh kepedulian.
Dalam sesi diskusi, KH. Muhammad Rahman juga mengajak para peserta untuk kembali menjadikan masjid, majelis ilmu, dan keluarga sebagai pusat pendidikan akhlak. Ia meyakini bahwa perubahan bangsa harus dimulai dari transformasi batin dan perilaku pribadi.
Kehadiran beliau dalam pelatihan ini tidak hanya memberi wawasan intelektual, tetapi juga menghadirkan keteladanan spiritual yang menyentuh hati para peserta. Banyak peserta yang menyampaikan kesan mendalam atas gaya penyampaian beliau yang teduh, argumentatif, dan penuh empati.


